nurjadinrusmin.blogspot.com # slide 1 title

Penddikan, Seni dan Teknologi.

nurjadinrusmin.blogspot.com # 2 title

Penddikan, Seni dan Teknologi.

nurjadinrusmin.blogspot.com # slide 3 title

Penddikan, Seni dan Teknologi.

nurjadinrusmin.blogspot.com # slide 4 title

Penddikan, Seni dan Teknologi.

nurjadinrusmin.blogspot.com # slide 5 title

Penddikan, Seni dan Teknologi.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

Kunang-kunang di Langit Jakarta

Sebuah Cerpen Karya Agus Noor --


Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George.

Mata Peter akan berbinar setiap menceritakannya. Ia termasuk keturunan langsung spesies kura-kura yang diamati Charles Darwin ketika merumuskan teori evolusinya pada abad ke-19. Berapa kali ia sudah mendengar Peter mengatakan itu? Kau harus melihat sendiri, betapa cakepnya kura-kura itu. Ia botak dan bermata besar. Ia tua dan kesepian memang. Namun, sebentar lagi ia akan punya keturunan.

Ada benarnya juga kelakar teman- temannya. ”Kau tahu, Jane, itulah risiko punya pacar zoologist. Kamu harus lebih dulu menjadi primata yang menarik untuk membuatnya tertarik bercinta denganmu.”

”Justru itulah untungnya. Aku tak perlu cemas. Karena Peter lebih tertarik memperhatikan binatang langka ketimbang perempuan berambut pirang.” Dan ia tertawa walau sebenarnya merasa konyol bila menyadari: betapa ia mesti berebut perhatian kekasihnya, justru dengan binatang-binatang langka seperti itu.

Peter pernah cerita perihal burung bulbul langka yang berhasil ditemukannya bersama rombongan peneliti Worldwide Conservation Society di perbukitan kapur dataran rendah Laos; penemuan yang menurut Peter begitu menakjubkan, karena belum pernah dalam 100 tahun terakhir ditemukan spesies baru di Asia. Kau tahu, kicau burung bulbul itu jauh lebih merdu dari burung bulbul dalam dongeng HC Andersen. Bulu-bulunya hijau mengilap. Peter pernah pula bercerita tentang kucing emas yang misterius dan tak mungkin dijumpai, tapi ia berhasil melihatnya di pegunungan Tibet, sedang melesat memanjat pepohonan dengan gerakan yang bagai terbang.

Setiap saat ada kesempatan mereka bertemu—saat mereka seharusnya menghabiskan setiap menit dengan bercinta—kekasihnya justru sibuk bicara soal katak berwarna ungu yang ditemukannya di Suriname, kumbang tahi, kadal tanpa kaki, duiker merah, galago kerdil, mokole mbembe di Sungai Zambeze, sejenis tikus bermoncong panjang yang disebutnya Zanzibar, burung Akalat Ukwiva—dan entah nama-nama aneh apa lagi—sampai obsesinya menemukan spesies putri duyung yang diyakininya masih hidup di perairan Kiryat Yam, Israel. Aku akan menjadi orang kedua setelah Richard Whitbourne, kapten kapal yang pada tahun 1610 pernah melihat putri duyung di pelabuhan Newfoundland St James….

Langit mulai menggelap dan keriuhan kendaraan yang memadati Horrison Street menyelusup masuk Café Gratitude. Jane Jeniffer ingat, tujuh tahun lalu, saat ia menikmati house lemonade di kafe ini, ia bertemu dengan Peter Bekoff, yang muncul dengan seekor iguana di pundaknya. Karena nyaris tak ada kursi kosong, laki-laki itu mendekati mejanya.

”Kau tahu, kenapa aku ke sini membawa iguana? Karena kalau aku datang bersama Jennifer Lopez pasti kafe ini seketika dipenuhi paparazi, dan kau tak bisa dengan tenang menikmati house lemonade-mu itu…”

Entahlah, kenapa saat itu, ia menganggap lucu kata-kata itu. Mungkin itulah sebabnya, sering kita kangen pada saat-saat pertemuan pertama. Kita memang ingin selalu mengulang kenangan.

***

”Bukankah kau ingin melihat kunang-kunang?”

Dulu, semasa kanak, ia memang pernah terpesona dengan makhluk yang bagai hanya ada dalam buku-buku dongeng. Di San Francisco yang hiruk pikuk, tempat ia tinggal sejak kanak-kanak, ia tak pernah melihat kunang-kunang secara langsung. Ia melirik Peter yang begitu asyik memandangi kunang-kunang yang disimpannya dalam stoples. Cahaya kuning kehijauannya membias pucat.

”Ini kunang-kunang istimewa, bukan golongan Lampyridae pada umumnya. Para penduduk setempat percaya, kunang-kunang ini berasal dari roh penasaran. Roh para perempuan yang diperkosa….”

Saat menyadari Jane tak terlalu memperhatikan kunang-kunang itu dan lebih sering memandangi langit muram San Francisco yang membayang di jendela, Peter menyentuh lengannya. ”Percayalah, di sana, nanti kau akan menjumpai langit yang megah dipenuhi jutaan kunang-kunang.” Lalu suaranya nyaris lembut, ”Dan kita bercinta di bawahnya….”

Tapi ia tak merasa kunang-kunang itu istimewa, seperti dikatakan Peter. Mungkin karena saat itu, ia memendam kekecewaan, sebab tahu bahwa pada akhirnya Peter tak akan mengajaknya menikmati kehangatan Pulau Galapagos, tetapi ke kota yang panas dan bising ini.

Ini jelas bukan kota yang ada dalam daftar yang ingin dikunjunginya pada musim libur. Peter membawanya ke permukiman padat kota tua tak terawat. Banyak toko kosong terbengkalai, dan rumah-rumah gosong bekas terbakar yang dibiarkan nyaris runtuh. ”Di gedung-gedung gosong itulah para kunang-kunang itu berkembang biak,” ujar Peter. Padahal, sebelumnya ia membayangkan hutan tropis eksotis, atau hamparan persawahan, di mana ribuan kunang-kunang beterbangan. Peter seperti abai pada kedongkolannya, sibuk mengeluarkan kamera, fotograf dan beberapa peralatan lain dari ranselnya.

Ia menunggu tak jenak. Ketika senja yang muram makin menggelap, dalam pandangannya gedung-gedung yang gosong itu seperti makhluk-makhluk ganjil yang rongsok dan bongkok, menanggung kepedihan. Dan dari ceruk gelap gedung-gedung itu seperti ada puluhan mata yang diam-diam manatapnya. Seperti ada yang hidup dan berdiam dalam gedung-gedung kelam itu. Lalu ia melihat kerlip lembut kekuningan, terbang melayang-layang.

”Lihat,” Peter menepuk pundaknya. ”Mereka mulai muncul. Kunang-kunang itu….”

Itulah detik-detik yang kemudian tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya. Ia menyaksikan puluhan kunang-kunang menghambur keluar dari dalam gedung-gedung gosong itu. Mereka melayang-layang rendah, seakan ada langkah-langkah gaib yang berjalan meniti udara. Puluhan kunang-kunang kemudian berhamburan seperti gaun yang berkibaran begitu anggun. Beberapa kunang-kunang terbang berkitaran mendekatinya.

”Pejamkan matamu, dan dengarkan,” bisik Peter. ”Kunang-kunang itu akan menceritakan kisahnya padamu….”

Ia merasakan keheningan yang membuatnya pelan-pelan memejamkan mata, sementara Peter dengan hati-hati menyiapkan micro-mic, yang sensor lembutnya mampu merekam gelombang suara paling rendah—menurut Peter alat itu bisa menangkap suara-suara roh, biasa digunakan para pemburu hantu. Keheningan itu seperti genangan udara dingin, yang berlahan mendesir. Pendengarannya seperti kelopak bunga yang merekah terbuka; geletar sayap kunang-kunang itu, melintas begitu dekat di telinganya, seperti sebuah bisikan yang menuntunnya memasuki dunia mereka. Ia terus memejam, mendengarkan kudang-kunang itu bercerita.

”Lihatlah api yang berkobar itu. Setelah api itu padam, orang-orang menemukan tubuhku hangus tertimbun reruntuhan….”

Suara itu, suara itu menyelusup lembut dalam telinganya. Dan ia seperti menyaksikan api yang melahap pusat perbelanjaan itu. Menyaksikan orang- orang yang berteriak-teriak marah dan menjarah. Ia menyaksikan seorang perempuan berkulit langsat diseret beberapa lelaki kekar bertopeng. Asap hitam membubung. Beberapa orang melempar bom molotov ke sebuah toko, kemudian kabur mengendarai sepeda motor. Api makin berkobar. Perempuan itu menjerit dan meronta, diseret masuk ke dalam toko yang sudah ditinggalkan penghuninya.

”Lihatlah gedung yang gosong itu. Di situlah mereka memerkosa saya….”

”Mereka begitu beringas!”

”Mayat saya sampai sekarang tak pernah ditemukan.”

”Roh kami kemudian menjelma kunang-kunang….”

”Lihatlah… lihatlah….”

Ia melihat puluhan kunang-kunang terbang bergerombol, seperti rimbun cahaya yang mengapung di kehampaan kegelapan. Puluhan suara yang lirih terus menyelesup ke dalam telinganya. Ia merasakan tubuhnya perlahan mengapung, seperti hanyut terseret suara-suara itu.

”Ayo, ikutlah denganku. Ayolah, biar kau pahami seluruh duka kami….”

”Jane!!”

Ia dengar teriakan cemas.

”Jane!!”

Ada tangan menariknya, membuatnya tergeragap. Peter mengguncang bahunya, ”Jane! Kamu tak apa-apa?!” Suara-suara itu, perlahan melenyap. Tapi bagai ada yang tak akan pernah lenyap dalam hidupnya. Ia menatap kosong, seakan ada sebagian dirinya yang masih ada di sana. Seakan sebagian jiwanya telah dibawa dan terikat dengan kunang-kunang itu. Lalu ia lebih banyak diam, memandang takjub pada ribuan kunang-kunang yang muncul berhamburan dari gedung-gedung yang gosong, seperti muncul dari mulut goa. Semakin malam semakin bertambah banyak kunang-kunang memenuhi langit kota. Jutaan kunang-kunang melayang, seperti sungai cahaya yang perlahan mengalir dan menggenangi langit. Langit kota dipenuhi pijar cahaya hijau kekuningan yang berdenyut lembut; seperti kerlip bintang-bintang yang begitu rendah, dan kau bisa menyentuhnya.

Malam itu ia merasakan sentuhan dan pelukan Peter meresap begitu dalam. Ciuman-ciuman yang tak akan terlupakan. Ciuman-ciuman yang paling mengesankan di bawah hamparan cahaya kunang-kunang. Ciuman-ciuman yang selalu membawanya kembali ke kota ini dan kenangan.

***

Pertama kali, kunang-kunang itu terlihat muncul pertengahan tahun 2002, empat tahun setelah kerusuhan. Seorang penduduk melihatnya muncul dari salah satu gedung gosong itu. Makin lama, kunang-kunang itu makin bertambah banyak, terus berbiak, dan selalu muncul pertengahan tahun. Para penduduk kemudian percaya, kunang-kunang itu adalah jelmaan roh korban kerusuhan. Roh perempuan yang disiksa dan diperkosa. Orang-orang di sini memang masih banyak yang percaya, kalau kunang-kunang berasal dari kuku orang yang mati. Dari kuku orang mati itulah muncul kunang-kunang itu. Sering, orang-orang mendengar suara tangis muncul dari gedung-gedung gosong yang terbengkalai itu. Gedung-gedung itu seperti monumen kesedihan yang tak terawat.

Peter menceritakan semua itu, seolah-olah ia bukan zoologist. ”Sering kali ilmu pengetahuan tak mampu menjelaskan semua rahasia,” kata Peter, bisa menebak keraguannya. ”Bisakah kau menjelaskan apa yang barusan kau alami hanya dengan logika?”

Memang, ia hanya bisa merasakan, seperti ada yang ingin diceritakan oleh kunang-kunang itu padanya. Suara-suara gaib yang didengarnya itu seperti gema yang tak bisa begitu saja dihapuskan dari ingatannya. Ia percaya, segala peristiwa di dunia ini selalu meninggalkan gema. Seperti gema, mereka akan selalu kembali. Karena itulah ia pun kemudian selalu kembali ke kota ini. Untuk kunang-kunang dan kenangan.

Ia selalu terpesona menyaksikan jutaan kunang-kunang memenuhi langit kota. Langit menjelma hamparan cahaya kekuningan. Itulah satu-satunya pemandangan termegah yang selalu ingin ia nikmati kembali. Ia dan Peter suka sekali berbaring di atap gedung, menyaksikan berjuta-juta kunang-kunang itu memenuhi langit kota. Pada saat-saat seperti itu, sungguh, kau tak akan mungkin menemukan panorama langit yang begitu menakjubkan di belahan dunia mana pun, selain di kota ini.

”Kelak, bila aku mati, aku akan moksa menjelma kunang-kunang. Aku akan hidup dalam koloni kunang-kunang itu. Dan kau bisa selalu memandangiku ada di antara kunang-kunang itu….”

Saat itu, ia hanya tertawa mendengar omongan Peter. Semua menjadi berbeda ketika telah menjadi kenangan.

***

Ia tengah dalam perjalanan bisnis ke Louisville ketika menerima telepon itu: Peter meninggal dunia. Tepatnya lenyap. Beberapa orang bercerita menyaksikan tubuh Peter terjun dari puncak ketinggian gedung. Mungkin ia meloncat. Mungkin seseorang mendorongnya. Tubuh Peter yang meluncur itu mendadak menyala, bercahaya, kemudian pecah menjadi ribuan kunang-kunang. Penggambaran kematian yang terlalu dramatis, atau mungkin malah melankolis! Mungkin memang benar seperti itu. Tapi mungkin benar juga desas-desus itu: Peter dilenyapkan karena berusaha menghubung-hubungkan fenomena kunang-kunang itu dengan kerusuhan yang bertahun-tahun lalu terjadi di kota ini.

Dari tahun ke tahun populasi kunang-kunang itu memang makin meningkat. Kemunculan kunang-kunang yang memenuhi langit kota Jakarta menjadi fenomena yang luar biasa. Banyak yang kemudian menyebut sebagai salah satu keajaiban dunia. Menjadi daya tarik wisata. Setiap pertengahan Mei, saat jutaan kunang-kunang itu muncul dari reruntuhan gedung-gedung gosong—pemerintah daerah kemudian menetapkan gedung-gedung gosong itu menjadi cagar budaya dan wisata—banyak sekali turis yang datang menyaksikan. Para penduduk lokal bahkan telah menjadikannya sebagai acara tahunan. Mereka duduk menggelar tikar, mengadakan beberapa atraksi hiburan di sepanjang jalan, sembari menunggu malam ketika kunang-kunang itu memenuhi langit kota. Para pengunjung akan bersorak gembira ketika serombongan kunang-kunang muncul, terbang meliuk-liuk melintasi langit kota, dan berhamburan bagai ledakan kembang api. Betapa megah. Betapa indah.

Mata Jane selalu berkaca-kaca setiap kali menyaksikan itu; membayangkan Peter ada di antara jutaan kunang-kunang yang memenuhi langit Jakarta itu. Itulah sebabnya kunang-kunang dan kenangan selalu membuatnya kembali ke kota ini.

Ia tengah memandangi langit yang penuh kenang-kunang itu dengan mata berkaca-kaca, ketika seorang pengunjung di sampingnya berkata, ”Keindahan memang sering membuat kita sedih….”

Jane tersenyum. ”Saya tiba-tiba ingat peristiwa yang menyebabkan kunang-kunang itu muncul. Apakah Anda ingat peristiwa itu?”

Orang itu menggeleng. Jane tak terlalu kaget. Orang-orang di kota ini memang tak lagi mengingat peristiwa kerusuhan itu.

Jakarta, 2010-2011

Senin, 03 Februari 2014

Penumpang Kelas Tiga

Sebuah Cerpen Karya A.A. Navis --

Si Dali ketemu teman lamanya di kapal Kerinci yang berlayar dari Padang ke Jakarta, sebagai penumpang klas tiga. Ketemu setelah berlayar semalam, waktu lagi antri ke kakus. Padahal sebelum itu mereka sudah bertatap pandang juga di tempat tidur yang bersela seorang lain. Namun tidak saling memperhatikan, apalagi bertegur sapa. Barulah saling memperhatikan waktu antri hendak ke kakus itu. Mulanya saling bertatapan, lalu saling melengos. Bertatapan lagi dan melengos lagi. Ketika bertatapan ketiga, mereka tidak melengos lagi. Mereka sama tersenyum.

“Engkau Si Dali, bukan?” kata yang seorang.

“Si Nuan?” kata Si Dali menyahut dengan tanya.

Mereka berangkulan dengan kedua tangan masing-masing memegang peralatan mandi, sabun, gundar gigi dan handuk.

“Sudah lama sekali kita tidak ketemu.”

“Memang sudah lama sekali.”

Mereka saling bertanya-tanya dan saling berjawab-jawab. Dengan asyik. Sampai beberapa orang sudah keluar dan masuk kakus, mareka masih bertanya-tanya dan berjawab-jawab. Dalam pada itu pikiran Si Dali berjalan ke masa lalu yang sudah lama sekali.

Nuan punya saudara kembar, Nain namanya. Untuk menandai perbedaannya, yang satu tidak segempal yang lain. Kemana-mana selalu bersama. Kata orang, orang bersaudara kembar sering punya selera yang sama. Termasuk terhadap perempuan. Kata orang, itu baru ketahuan kemudian. Yaitu ketika terjadi persaingan untuk mendapati hati seorang gadis.

Yang menjadi idola pada awal revolusi, terutama oleh para gadis, ialah prajurit yang dipinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut kaplars. Nuan dan Nain yang hanya dapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru. Karena pangkatnya yang rendah, mereka tidak berhak memakai kedua perangkat perwira yang bergengsi itu. Keduanya pun sama merasa tidak mendapat perhatian Si Wati, gadis di sebelah rumahnya. Dan ketika Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, mengajak bergabung dengan pangkat letnan dua, Nuan meninggalkan tugasnya dari TKR. Agar dapat pangkat yang sama Nain pun bergabung dengan Tentera Merah Indonesia.

“Apalah arti perbedaan pasukan. Yang penting sama jadi letnan, sama punya pedang samurai dan pakai kaplars.” kata mereka sambil menyangka Wati akan mulai punya perhatian.

Kian lama bergabung dengan pasukan yang berbeda idiologi perjuangan itu, malah menumbuhkan perseteruan diam dalam diri keduanya. Sekaligus menimbulkan persaingan dalam merebut hati Wati. Akan tetapi belum ada yang berani menebarkan jala untuk mendapat Wati. Nuan selalu bicara tentang perang jihad bila bertandang ke rumah Wati. Sedangkan Nain bicara tentang revolusi rakyat. Mereka pernah berdebat di depan Wati untuk membenarkan tujuan perjuangan masing-masing. Tapi lebih sering datang sendiri-sendiri karena memang tidak punya waktu senggang yang sama. Tentu saja pada kesempatan itu mereka saling membanggakan pasukan masing-masing.

Nuan-lah yang akhirnya berhasil merebut Wati. Itu terjadi setelah pemerintah melakukan kebijaksanaan rasionalisasi dengan menggabungkan seluruh kesatuan pejuang ke dalam TNI. Oleh kebijaksanaan pemerintah itu, pangkat semua perwira di luar TNI diturunkan dua tingkat. Nuan mendapat tugas baru sebagai staf pada bagian logistik, sedang Nain dalam kesatuan tempur di front. Keduanya tetap sama membanggakan tugasnya masing-masing kepada Wati, meski pedang samurai dan kaplars tidak lagi berhak mereka pakai.

Ayah Wati berpandangan praktis dalam menenetapkan siapa yang akan jadi jodoh anaknya. Katanya: “Perwira bagian logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. Sedangkan perwira di front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda.”

“Padahal engkau membalas ciumanku. Tapi Nuan yang kau jadikan suami.” tempelak Nain kepada Wati.

“Apa dayaku, kalau ayah mau Nuan?” jawab Wati dengan nada yang memelas.

Nain sudah terlatih bersikap radikal, baik karena ikut Tentera Merah, maupun lama di front, Wati dirangkulnya erat. Dan mereka bergumul dengan dada masing-masing bergemuruh. Dan ketika akan melampaui tapal batas, Wati sadar bahwa dia telah jadi isteri Nuan. Pergumulan pun reda. Semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Karena kesatuan Nain sering berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain yang dilanda kemelut militer akibat para perwira tidak puas terhadap kebijaksanaan politik kemeliteran sehabis revolusi. Yaitu menerima pasukan KNIL dengan kepangkatan yang utuh, tapi menurunkan pangkat dua tingkat pasukan yang berjuangan.

Ketika kemelut militer berjangkit dalam bentuk peristiwa PRRI, sekali lagi kesatuan Nain ditugaskan menumpasnya. Sedangkan Nuan yang ikut PRRI mundur ke hutan. Tapi Wati tinggal di kota. Ketika Nain datang mendapati Wati, yang ketika itu telah beranak dua, api dalam dada keduanya menyala lagi. Mereka bergumul lagi. Berulang kali. Api dalam dada Nain bercampur aduk dendam antara cinta tercuri dengan permusuhan idiologi dengan saudara kembarnya. Menurut Wati, meski bernafsu dia hanya menjalaninya dengan perimbangan: daripada melayani prajurit lain yang lagi mabuk kemenangan, lebih baik menerima Nain yang sekaligus menjadi pelindung. Pikiran dan perasaan yang berancuan moral, dia tekan jauh ke dalam lubuk hatinya. Bila mengambang menjadi jeritan, diredam oleh keharusan berdamai dengan situasi.

Akhirnya setelah kalah perang, Nuan kembali bergabung ke TNI dengan pangkat baru yang diturunkan lagi dua tingkat, menjadi pembantu letnan. Dia bertatapan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang, dihadapan Wati. Sebentar, ya, sebentar saja mereka sama terpaku saling memandang, lalu mereka berangkulan sebagai dua orang saudara kembar. Tak berkata sepatahpun. Dan Wati lari ke ruang belakang dan terus ke rumah sebelah. Lari dari keadaan yang tak tertanggungkan bila meledak. Dia tak muncul lagi sampai kedua laki-laki itu pergi.

Pada mulanya perasaan, lalu dugaan, akhirnya dia yakin bahwa antara Wati dan Nain ada main. Hatinya luka, lalu dia marah dan kemudiannya benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus. Tapi dia adalah prajurit yang perangnya kalah. Yang kini menjadi pembantu letnan setelah pangkatnya diturunkan oleh sejarah. Di sebelah sana adalah Nain, yang menjadi kapten karena perangnya menang. Karena kemenangan itu dia meniduri Wati, isteri saudara kembarnya.

“Khianat. Semuanya khianat.” teriaknya berulang-ulang.

Tapi dia seorang prajurit yang kalah perang. Apa yang dapat dilakukan oleh orang kalah perang? Bagi Nuan tidak lain daripada selain kalah dan seterusnya menerimanya tanpa dapat berbuat apa-apa, bahkan berpikir apapun. Dengan perasaan itu dia menerima Wati kembali yang membawa kedua anak mereka.

“Wati toh perempuan yang dikalahkan sejarah.” katanya mendamai-damaikan sisa gejolak di hatinya.

Tiba-tiba letak panggung sejarah berobah. Pemberontakan kaum komunis pun pecah. Nain yang kapten dan baru diangkat jadi mayor ikut komunis. Kini dialah yang dikalahkan. Ditangkap lalu dipenjarakan. Sesudut hatinya bersorak. “Kamu rasakan kini menjadi orang yang kalah.” Tapi Nain adalah saudara kembarnya yang lahir dari perut ibu yang sama. Jadi berbeda idiologi karena berbeda kereta tumpangan yang disediakan sejarah. Haruskah membalas dendam karena Wati ditiduri Nain, lalu meniduri Inna, isteri Nain, yang cantik dan lebih muda, yang kini menumpang di rumahnya?

Tidak. Dia tidak dapat melakukannya. Inna adalah isteri saudara kembarnya. Mengapa dia harus membalas dendam kepada saudara kembarnya sendiri yang kini tengah mengalami siksa akibat idiologinya sendiri. Akan tetapi ketika dia ingat Wati pernah mengkhianatinya, luka hatinya menganga. Ditinggalkannya Wati yang lagi berbaring di sisinya. Dia pergi ke kamar Inna dengan nafsu dendam yang menyala-nyala kepada Wati.

Namun Nuan hanya tegak termangu melihat Inna membuka baju sambil tersedu. Lalu dia keluar sambil membanting pintu, menyusuri jalan raya yang gelap karena listrik sudah lama mati oleh mesin sentralnya sudah lama rusak.

“Sudah lama sekali, ya, kita tidak ketemu?” kata salah seorang setelah sama menopang dagu ke pagar geladak kapal sambil memandang ke gelombang laut lepas.

“Ya, sudah lama sekali.”

“Tiba-tiba saja kita telah menjadi tua.”

“Meski begitu, kita tidak bisa betul-betul lupa.”

“Memang.”

Kayutanam, 6 Januari 1996


Rabu, 22 Januari 2014

Suara Serak di Seberang Radio

MENJELANG tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Akan terdengar decak kunyahnya; nikmat seruputan di rahangnya. Aduhai, sembari menunggu gelegak tengguli sempurna menjadi gula merah, Yarman menaruh radio itu di atas lututnya dan mengasyiki tombol pencari gelombang. Sambil duduk menyandar ke dinding bambu, kepalanya menggeleng ritmis. 

Tubuhnya terasa begitu ringan mendengar cuap-cuap penyiar acara Kotak Pos membacakan kartu dari sejumlah pendengar setia penjuru Nusantara. Sebelum sebuah lagu kenangan diputar, suara serak milik penyiar acara itu adalah suara yang dinanti-nanti Yarman. Dirinya seperti seorang yang menunggu kehadiran, mungkin seorang sahabat, atau bahkan kekasih. Satu dua isapan linting daun enau berdesis dari bibirnya. Tidak ada yang akan tahu, kalau di dalam racikan tembakau yang dilintingnya dengan daun enau itu dibubuhi sedikit daun ganja betina. Razia ganja mana pula pernah sampai ke pondoknya yang terpencil di hulu Batangmaek.

Sebelum sebuah lagu selesai, Yarman akan menghayati aneka bayangan yang melintas di alam hayalnya. Suatu saat, Ratna, si penyiar acara Kotak Pos itu akan dicarinya. Yarman membayangkan, ia bertemu Ratna di sebuah halte saat hujan deras turun. Ia berharap Ratna tak membawa payung, sehingga mereka punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.

Dan hujan akan ia seru untuk tidak berhenti. Saat itulah, kepada Ratna akan diceritakannya perihal hujan yang sudah bertahun menyiksa hatinya. Hulu Batangmaek, bukit paling sepi dari bujuran Bukitbarisan, telah memaku takdirnya, sehingga tak sempat menyampaikan demikian banyak keinginannya sebagai laki-laki. Ada sebuah keinginan yang tidak dapat tidak akan diwujudkannya juga. Sebelum mata hidupnya ditutup dan keinginannya yang banyak menyatu dengan angin dingin Batangmaek.

Akan dipaparkannya, betapa setiap kali ingat Ratna, ia selalu membuka tempat khusus di jantungnya, sebuah lorong dengan bangku yang banyak. Di tiap bangku itu ada adegan cerita tentang dia dan Ratna yang akan berjumpa entah kapan. Pada bangku paling ujung, ada gambar yang selalu membuat jantung Yarman melambung-lambung. Terlihat samar, di tengah hujan yang tak kunjung reda, kepala Ratna jatuh ke bahu Yarman. Tapi, wajah Ratna tidak begitu jelas. Kalau sudah sampai di situ, lamunan Yarman akan buyar. Ia akan ditimbun pertanyaan, seperti apa gerangan rupa perempuan bersuara serak itu? Pertanyaan inilah yang telah membuat Yarman seperti ikan termakan umpan.

Terutama ketika Selasa malam beranjak jadi Rabu, saat hari pekan benderang, di mana ia akan pergi ke pasar menjual gula merah. Uangnya akan ia jadikan ongkos pergi ke kantor pos di Suliki. Sebelum itu ia akan singgah dulu di Sialang, perkampungan pinggir Batang Sinamar, tempat para pandai batu akik bertempat tinggal. Ia telah memesan batu giok yang diikat dengan sebuah cincin bermotif rencong wajik. Bila sudah waktunya dan cincin itu sudah selesai, akan dibawanya ke Padang. Salah seorang kenalannya, Syaiful, penadah barang-barang bekas di Padang sudah disuratinya. Tinggal menunggu balasan, apakah ia bersedia mengantar menemui penyiar bersuara serak itu.

Bertahun sudah Yarman menjadi penggemar acara Kotak Pos yang diasuhnya. Selama itu pula Yarman menyisakan uang hasil menjual gula enaunya untuk ditabung. Ya, pada waktunya ia akan ke Padang, merencanakan pertemuan dengan Ratna.

Demi keinginannya yang satu ini, seminggu sekali, ia sengaja pergi ke kantor pos membeli kartu, perangko, dan beberapa buah amplop. Kadang ia mendapat tumpangan sepeda motor oleh kenalannya yang kebetulan lewat ke arah Suliki, tempat yang ia tuju. Tapi lebih sering ia naik bus tiga-perempat yang pengap. Ikut berdesakan dengan pedagang sayur dan sejumlah orang kampung yang akan pergi belanja ke Payakumbuh.

Kartu yang dibelinya seminggu sebelumnya sudah ditulisi dan segera ia poskan. Sedangkan kartu pos yang akan dibelinya untuk persiapan minggu berikutnya.

***

Semula, kartu pos itu hanya puluhan. Pelahan, beranjak jadi ratusan. Hingga kini sudah ribuan. Dari sebanyak itu, ada satu kartu yang selalu ingin ditandai Ratna. Kartu pos yang dikirim oleh salah seorang penggemar acara yang diasuhnya, bernama Yarman.

Di kamarnya yang wangi, di laci meja kerja, Ratna menyimpan kartu pos kiriman Yarman yang tak pernah ia bacakan pada acara Kotak Pos itu. Terbayang olehnya, jika suatu ketika ia diberi waktu yang lapang, ia ingin sekali berlibur ke Kototinggi, kampung Yarman, si pengirim kartu. Semula Ratna hanya menganggap cara Yarman sebagai tingkah iseng seorang penggemar saja. Namun, setelah bulan-bulan berganti tahun, ia selalu menerima kartu pos dari Yarman. Lama-kelamaan Ratna justru jadi terbiasa bahkan tergantung pada cara Yarman yang unik. Kini, penasaran telah menumpuk dalam kepala Ratna. Tulisan-tulisan Yarman dalam kartu pos itu telah menggodanya untuk paling tidak sekali saja berkunjung ke ceruk Bukitbarisan yang disebut-sebut Yarman sebagai tempat paling sepi bagi seorang bujang.

Ratna selalu menerima kartu pos dari Yarman sebanyak dua lembar. Satu untuk dibacakan, satu lagi berisi tulisan Yarman yang ditujukan kepada Ratna. Ada yang berupa cerita singkat tentang udara perbukitan di Kototinggi yang sejuk. Sejumlah lembah, tempat yang sejak dahulu sering jadi tempat persembunyian para pemberontak. Dari sana, ada jalan setapak yang tembus ke Bonjol. Di sana, dulu, Belanda menugaskan tentara mengawal para penambang emas.

Ada pula yang berbentuk puisi: ungkapkan ketakjuban Yarman mendengar suara Ratna ketika siaran. Tentang betapa ia suatu saat akan menaklukkan waktu, keluar dari kesibukannya sebagai petani nira dan bergabung dengan kesibukan kota. Satu yang pasti, ia akan ke Padang mencari Ratna. Katanya, bertemu dengan Ratna adalah obat dari sakit sepi yang bertahun diidapnya.

***

Yarman menyetel gelombang radionya dari berita ke lagu dangdut. Dari lagu dangdut ke lagu pop. Tapi, masih ada yang terasa belum sempurna. Sudah tiga minggu acara Kotak Pos yang ditunggu-tunggunya tidak disiarkan. Ini minggu keempat. Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang. Tidak ada lagi suara serak Ratna. Cerita dan kiriman salam dari sahabat-sahabatnya yang jauh seakan raib dimakan angin yang berkisar di Bukitbarisan. Yarman berpikir, jika selamanya begini, hal yang mesti ia persiapkan adalah mendamaikan gejolak keinginannya berangkat ke Padang. Jika acara Kotak Pos tidak ada lagi, pertemuan dengan Ratna tidak akan lebih dari kesiur mimpi yang konyol? Yarman merasakan dirinya sangat bodoh.

Ketakutan Yarman terjadi juga. Acara Kotak Pos sudah ditiadakan pihak radio. Penggemar acara ini makin sedikit. Orang-orang kini malas ke kantor pos. Orang-orang lebih suka mengirim pesan singkat melalui telepon genggam. Yarman menggigil ketika pemberitahuan tentang peniadaan acara Kotak Pos diumumkan. Penyiarnya dipindahkan ke program lain.

Meski masih bisa mendengar suara Ratna, kadang membaca berita, kadang mengiringi pemutaran lagu-lagu melayu, Yarman merasakan ada yang terputus antara dia dan Ratna. Ratna tidak lagi menyebut namanya. Ratna kini telah sombong.

Ia coba juga mengusir kegaduhan di pikirannya dengan mengisap lintingan daun enau yang sudah dibubuhi daun ganja betina seperti biasa ia lakukan di kesendiriannya. Sisa kartu pos yang sudah dibelinya ia tulisi dengan kalimat-kalimat aneh. Ada yang bernada kecaman pada waktu dan keadaan. Ada pula tentang rasa ngilu yang menusuk-nusuk sanubarinya setiap mendengar suara Ratna yang telah mengacuhkannya. Pada sebuah kartu pos yang bermotif kembang, ia tulis keluhannya tentang pergunjingan orang-orang kampung yang penasaran, mengapa di usia yang mendekati empat puluh, ia belum juga beristri. Dan pada kartu pos yang terakhir, ia tulisi tentang tekadnya untuk ke Padang. Jika pun bukan untuk menemui Ratna, ia akan mencoba bekerja.

***

Pada edaran waktu yang sama, sepuluh bulan kemudian, di Padang, sekitar dua ratus kilometer dari Batangmaek, peristiwa yang lain terjadi. Ratna mondar-mandir di dalam kamarnya yang wangi. Kartu pos kiriman Yarman yang disimpannya dalam laci meja tidak ada lagi. Ia sudah membongkar hingga ke balik lemari, siapa tahu ia sempat memindahkannya, atau tanpa sengaja terjatuh dan terselip di sana. Sejak delapan bulan menikah ia telah mengubah tata letak kamarnya. Barang-barang suaminya yang pegawai kantor pos lumayan banyak, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi kamar.

Saat ia terpaksa jongkok memeriksa lemari, suaminya datang dengan mimik penuh perhatian.
“Sayang, jangan jongkok begitu. Kandunganmu bisa terganggu. Mencari apa? Sini, uda bantu,” bapak janin dalam kandungan Ratna itu meraih bahu Ratna dan mengajaknya berdiri.
“Koleksi kartu pos Ratna hilang. Padahal itu kiriman dari sahabat terbaik Ratna….” Tampak sesal di wajah Ratna.
“Sayang. Maaf, ya, kemarin uda membereskan arsip-arsip untuk disimpan di gudang. Termasuk kartu-kartu pos itu. Sudah, lupakan saja. Sekarang kita istirahat, yuk. Besok kita cari. Sudah malam,” lelaki berkumis itu mendengus saat memeluk Ratna dari belakang. Ia sangat mengerti, sejak hamil, Ratna sering berlaku aneh, manja, dan banyak kehendaknya.

Kemarin itu, ia ingat kalau tak lama lagi anak pertamanya akan lahir. Maka itu ia sengaja menata kamar tersebut menjadi lebih lapang. Ia kumpulkan seluruh arsip dan menjualnya ke pemulung kertas yang sering berkeliling dengan becak di kompleks perumahan. Karena tidak mau istrinya kecewa, ia berbohong dengan mengatakan kartu itu masuk ke dalam tumpukan arsip di gudang. Tapi raut wajah Ratna terpana, tidak lega. Bulatan matanya berputar-putar dan kerut antara dua alisnya begitu jelas.

Pikiran Ratna tetap tak beralih dari kartu-kartu pos yang ingin dibacanya. Malam itu juga ia minta suaminya mengambil kartu-kartu itu kembali dari gudang. Tetap saja, suaminya berkilah, kalau sudah larut malam dan sebaiknya kartu-kartu itu dicari esok hari saja. Ratna sebenarnya tidak bisa menerima. Tapi, apa boleh buat, ia sadar, harus lebih mengutamakan kandungan dan memilih untuk istirahat.

***

Pada malam yang sama, di salah satu sudut Kota Padang yang mulai hening, Yarman menekuri dirinya. Ia rasakan betapa waktu memang tajam. Sejak acara Kotak Pos ditiadakan, ia telah kehilangan tempat berhibur. Hari-hari terasa melilitnya seperti jaring jala mengurung ikan. Semangat bekerjanya pun seakan tersedot oleh tenaga yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana. Satu hal yang sangat ia sadari, kalau pikirannya tetap tersangkut pada kartu-kartu pos yang tidak lagi pernah ia kirim. Juga tentang Ratna yang telah sombong.

Namun setelah seminggu di Padang, ia belum juga bisa mewujudkan keinginannya itu. Tinggal bersama sahabatnya, Syaiful, mengantarkan kesadarannya kepada hal yang lain. Melihat sahabatnya itu bekerja sebagai penadah barang-barang bekas, nyalinya untuk ikut membantu seketika bangkit. Semula, ia sengaja meninggalkan batang-batang enau dan pondok ladang dengan radio National dua band yang selalu tergantung di tiang itu, demi keinginan bertemu Ratna. Kini, terlintas di pikiran untuk ikut membantu Syaiful, sekaligus mencoba mengais rezeki sekadar untuk biaya hidup selama di Padang. Keinginan bertemu Ratna sengaja ia tekan. Ia tahan. Dan, jika dapat, akan ia lupakan.

Ya, malam yang sama, di saat Ratna sudah tertidur di sisi suaminya, Yarman tersandar di tumpukan kertas di gudang penyimpanan Syaiful, mematut-matut cincin permata giok bermotif rencong wajik yang sudah lama diniatkan sebagai hadiah untuk Ratna. Sejak datang di Padang, Yarman memang sering termenung di situ, sebelum kantuk tiba dan merebahkan badan di atas busa yang tidak jauh dari tumpukan kertas itu.

Entah mengapa pula, Yarman merasa nyaman meringkuk di atara tumpukan kertas bekas itu. Dirinya seolah ditimbun cerita-cerita yang tersimpan di dalam aksara yang tertulis di sana.

Di remang cahaya lampu, ia periksa beberapa lembar kertas yang terserak begitu saja ke lantai. Ia bolak-balik satu-dua lembar. Jantungnya mendingin. Ngilu. Jemarinya menangkap selembar kartu pos. Ia dekatkan ke arah lampu. Antara percaya dan tidak percaya, ia ambil dan periksa lembar-lembar yang lain.

Tidak salah lagi, kartu-kartu pos itu adalah kartu-kartu yang dulu pernah dikirimnya untuk acara Kotak Pos yang diasuh Ratna. Duh! Ia kumpulkan semua. Ia bawa ke tempat ia biasa tidur. Napasnya memburu. Tak sabar menunggu siang tiba. Sebab, ada sakit di jantungnya. Bila matahari sudah terbit esok hari, ia akan pamit pada Syaiful. Ia akan pulang, kembali ke Kototinggi membawa kartu-kartu pos itu.

Barangkali, bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya. (*)


Sungai Naniang-Padang, 2009-2010
Zelfeni Wimra, lahir di Sungainaniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Sutradara Teater Cabang, juga bergiat di Magistra Indonesia dan C2RS. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Pengantin Subuh (2009).