Rabu, 22 Januari 2014

Suara Serak di Seberang Radio

MENJELANG tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Akan terdengar decak kunyahnya; nikmat seruputan di rahangnya. Aduhai, sembari menunggu gelegak tengguli sempurna menjadi gula merah, Yarman menaruh radio itu di atas lututnya dan mengasyiki tombol pencari gelombang. Sambil duduk menyandar ke dinding bambu, kepalanya menggeleng ritmis. 

Tubuhnya terasa begitu ringan mendengar cuap-cuap penyiar acara Kotak Pos membacakan kartu dari sejumlah pendengar setia penjuru Nusantara. Sebelum sebuah lagu kenangan diputar, suara serak milik penyiar acara itu adalah suara yang dinanti-nanti Yarman. Dirinya seperti seorang yang menunggu kehadiran, mungkin seorang sahabat, atau bahkan kekasih. Satu dua isapan linting daun enau berdesis dari bibirnya. Tidak ada yang akan tahu, kalau di dalam racikan tembakau yang dilintingnya dengan daun enau itu dibubuhi sedikit daun ganja betina. Razia ganja mana pula pernah sampai ke pondoknya yang terpencil di hulu Batangmaek.

Sebelum sebuah lagu selesai, Yarman akan menghayati aneka bayangan yang melintas di alam hayalnya. Suatu saat, Ratna, si penyiar acara Kotak Pos itu akan dicarinya. Yarman membayangkan, ia bertemu Ratna di sebuah halte saat hujan deras turun. Ia berharap Ratna tak membawa payung, sehingga mereka punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.

Dan hujan akan ia seru untuk tidak berhenti. Saat itulah, kepada Ratna akan diceritakannya perihal hujan yang sudah bertahun menyiksa hatinya. Hulu Batangmaek, bukit paling sepi dari bujuran Bukitbarisan, telah memaku takdirnya, sehingga tak sempat menyampaikan demikian banyak keinginannya sebagai laki-laki. Ada sebuah keinginan yang tidak dapat tidak akan diwujudkannya juga. Sebelum mata hidupnya ditutup dan keinginannya yang banyak menyatu dengan angin dingin Batangmaek.

Akan dipaparkannya, betapa setiap kali ingat Ratna, ia selalu membuka tempat khusus di jantungnya, sebuah lorong dengan bangku yang banyak. Di tiap bangku itu ada adegan cerita tentang dia dan Ratna yang akan berjumpa entah kapan. Pada bangku paling ujung, ada gambar yang selalu membuat jantung Yarman melambung-lambung. Terlihat samar, di tengah hujan yang tak kunjung reda, kepala Ratna jatuh ke bahu Yarman. Tapi, wajah Ratna tidak begitu jelas. Kalau sudah sampai di situ, lamunan Yarman akan buyar. Ia akan ditimbun pertanyaan, seperti apa gerangan rupa perempuan bersuara serak itu? Pertanyaan inilah yang telah membuat Yarman seperti ikan termakan umpan.

Terutama ketika Selasa malam beranjak jadi Rabu, saat hari pekan benderang, di mana ia akan pergi ke pasar menjual gula merah. Uangnya akan ia jadikan ongkos pergi ke kantor pos di Suliki. Sebelum itu ia akan singgah dulu di Sialang, perkampungan pinggir Batang Sinamar, tempat para pandai batu akik bertempat tinggal. Ia telah memesan batu giok yang diikat dengan sebuah cincin bermotif rencong wajik. Bila sudah waktunya dan cincin itu sudah selesai, akan dibawanya ke Padang. Salah seorang kenalannya, Syaiful, penadah barang-barang bekas di Padang sudah disuratinya. Tinggal menunggu balasan, apakah ia bersedia mengantar menemui penyiar bersuara serak itu.

Bertahun sudah Yarman menjadi penggemar acara Kotak Pos yang diasuhnya. Selama itu pula Yarman menyisakan uang hasil menjual gula enaunya untuk ditabung. Ya, pada waktunya ia akan ke Padang, merencanakan pertemuan dengan Ratna.

Demi keinginannya yang satu ini, seminggu sekali, ia sengaja pergi ke kantor pos membeli kartu, perangko, dan beberapa buah amplop. Kadang ia mendapat tumpangan sepeda motor oleh kenalannya yang kebetulan lewat ke arah Suliki, tempat yang ia tuju. Tapi lebih sering ia naik bus tiga-perempat yang pengap. Ikut berdesakan dengan pedagang sayur dan sejumlah orang kampung yang akan pergi belanja ke Payakumbuh.

Kartu yang dibelinya seminggu sebelumnya sudah ditulisi dan segera ia poskan. Sedangkan kartu pos yang akan dibelinya untuk persiapan minggu berikutnya.

***

Semula, kartu pos itu hanya puluhan. Pelahan, beranjak jadi ratusan. Hingga kini sudah ribuan. Dari sebanyak itu, ada satu kartu yang selalu ingin ditandai Ratna. Kartu pos yang dikirim oleh salah seorang penggemar acara yang diasuhnya, bernama Yarman.

Di kamarnya yang wangi, di laci meja kerja, Ratna menyimpan kartu pos kiriman Yarman yang tak pernah ia bacakan pada acara Kotak Pos itu. Terbayang olehnya, jika suatu ketika ia diberi waktu yang lapang, ia ingin sekali berlibur ke Kototinggi, kampung Yarman, si pengirim kartu. Semula Ratna hanya menganggap cara Yarman sebagai tingkah iseng seorang penggemar saja. Namun, setelah bulan-bulan berganti tahun, ia selalu menerima kartu pos dari Yarman. Lama-kelamaan Ratna justru jadi terbiasa bahkan tergantung pada cara Yarman yang unik. Kini, penasaran telah menumpuk dalam kepala Ratna. Tulisan-tulisan Yarman dalam kartu pos itu telah menggodanya untuk paling tidak sekali saja berkunjung ke ceruk Bukitbarisan yang disebut-sebut Yarman sebagai tempat paling sepi bagi seorang bujang.

Ratna selalu menerima kartu pos dari Yarman sebanyak dua lembar. Satu untuk dibacakan, satu lagi berisi tulisan Yarman yang ditujukan kepada Ratna. Ada yang berupa cerita singkat tentang udara perbukitan di Kototinggi yang sejuk. Sejumlah lembah, tempat yang sejak dahulu sering jadi tempat persembunyian para pemberontak. Dari sana, ada jalan setapak yang tembus ke Bonjol. Di sana, dulu, Belanda menugaskan tentara mengawal para penambang emas.

Ada pula yang berbentuk puisi: ungkapkan ketakjuban Yarman mendengar suara Ratna ketika siaran. Tentang betapa ia suatu saat akan menaklukkan waktu, keluar dari kesibukannya sebagai petani nira dan bergabung dengan kesibukan kota. Satu yang pasti, ia akan ke Padang mencari Ratna. Katanya, bertemu dengan Ratna adalah obat dari sakit sepi yang bertahun diidapnya.

***

Yarman menyetel gelombang radionya dari berita ke lagu dangdut. Dari lagu dangdut ke lagu pop. Tapi, masih ada yang terasa belum sempurna. Sudah tiga minggu acara Kotak Pos yang ditunggu-tunggunya tidak disiarkan. Ini minggu keempat. Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang. Tidak ada lagi suara serak Ratna. Cerita dan kiriman salam dari sahabat-sahabatnya yang jauh seakan raib dimakan angin yang berkisar di Bukitbarisan. Yarman berpikir, jika selamanya begini, hal yang mesti ia persiapkan adalah mendamaikan gejolak keinginannya berangkat ke Padang. Jika acara Kotak Pos tidak ada lagi, pertemuan dengan Ratna tidak akan lebih dari kesiur mimpi yang konyol? Yarman merasakan dirinya sangat bodoh.

Ketakutan Yarman terjadi juga. Acara Kotak Pos sudah ditiadakan pihak radio. Penggemar acara ini makin sedikit. Orang-orang kini malas ke kantor pos. Orang-orang lebih suka mengirim pesan singkat melalui telepon genggam. Yarman menggigil ketika pemberitahuan tentang peniadaan acara Kotak Pos diumumkan. Penyiarnya dipindahkan ke program lain.

Meski masih bisa mendengar suara Ratna, kadang membaca berita, kadang mengiringi pemutaran lagu-lagu melayu, Yarman merasakan ada yang terputus antara dia dan Ratna. Ratna tidak lagi menyebut namanya. Ratna kini telah sombong.

Ia coba juga mengusir kegaduhan di pikirannya dengan mengisap lintingan daun enau yang sudah dibubuhi daun ganja betina seperti biasa ia lakukan di kesendiriannya. Sisa kartu pos yang sudah dibelinya ia tulisi dengan kalimat-kalimat aneh. Ada yang bernada kecaman pada waktu dan keadaan. Ada pula tentang rasa ngilu yang menusuk-nusuk sanubarinya setiap mendengar suara Ratna yang telah mengacuhkannya. Pada sebuah kartu pos yang bermotif kembang, ia tulis keluhannya tentang pergunjingan orang-orang kampung yang penasaran, mengapa di usia yang mendekati empat puluh, ia belum juga beristri. Dan pada kartu pos yang terakhir, ia tulisi tentang tekadnya untuk ke Padang. Jika pun bukan untuk menemui Ratna, ia akan mencoba bekerja.

***

Pada edaran waktu yang sama, sepuluh bulan kemudian, di Padang, sekitar dua ratus kilometer dari Batangmaek, peristiwa yang lain terjadi. Ratna mondar-mandir di dalam kamarnya yang wangi. Kartu pos kiriman Yarman yang disimpannya dalam laci meja tidak ada lagi. Ia sudah membongkar hingga ke balik lemari, siapa tahu ia sempat memindahkannya, atau tanpa sengaja terjatuh dan terselip di sana. Sejak delapan bulan menikah ia telah mengubah tata letak kamarnya. Barang-barang suaminya yang pegawai kantor pos lumayan banyak, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi kamar.

Saat ia terpaksa jongkok memeriksa lemari, suaminya datang dengan mimik penuh perhatian.
“Sayang, jangan jongkok begitu. Kandunganmu bisa terganggu. Mencari apa? Sini, uda bantu,” bapak janin dalam kandungan Ratna itu meraih bahu Ratna dan mengajaknya berdiri.
“Koleksi kartu pos Ratna hilang. Padahal itu kiriman dari sahabat terbaik Ratna….” Tampak sesal di wajah Ratna.
“Sayang. Maaf, ya, kemarin uda membereskan arsip-arsip untuk disimpan di gudang. Termasuk kartu-kartu pos itu. Sudah, lupakan saja. Sekarang kita istirahat, yuk. Besok kita cari. Sudah malam,” lelaki berkumis itu mendengus saat memeluk Ratna dari belakang. Ia sangat mengerti, sejak hamil, Ratna sering berlaku aneh, manja, dan banyak kehendaknya.

Kemarin itu, ia ingat kalau tak lama lagi anak pertamanya akan lahir. Maka itu ia sengaja menata kamar tersebut menjadi lebih lapang. Ia kumpulkan seluruh arsip dan menjualnya ke pemulung kertas yang sering berkeliling dengan becak di kompleks perumahan. Karena tidak mau istrinya kecewa, ia berbohong dengan mengatakan kartu itu masuk ke dalam tumpukan arsip di gudang. Tapi raut wajah Ratna terpana, tidak lega. Bulatan matanya berputar-putar dan kerut antara dua alisnya begitu jelas.

Pikiran Ratna tetap tak beralih dari kartu-kartu pos yang ingin dibacanya. Malam itu juga ia minta suaminya mengambil kartu-kartu itu kembali dari gudang. Tetap saja, suaminya berkilah, kalau sudah larut malam dan sebaiknya kartu-kartu itu dicari esok hari saja. Ratna sebenarnya tidak bisa menerima. Tapi, apa boleh buat, ia sadar, harus lebih mengutamakan kandungan dan memilih untuk istirahat.

***

Pada malam yang sama, di salah satu sudut Kota Padang yang mulai hening, Yarman menekuri dirinya. Ia rasakan betapa waktu memang tajam. Sejak acara Kotak Pos ditiadakan, ia telah kehilangan tempat berhibur. Hari-hari terasa melilitnya seperti jaring jala mengurung ikan. Semangat bekerjanya pun seakan tersedot oleh tenaga yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana. Satu hal yang sangat ia sadari, kalau pikirannya tetap tersangkut pada kartu-kartu pos yang tidak lagi pernah ia kirim. Juga tentang Ratna yang telah sombong.

Namun setelah seminggu di Padang, ia belum juga bisa mewujudkan keinginannya itu. Tinggal bersama sahabatnya, Syaiful, mengantarkan kesadarannya kepada hal yang lain. Melihat sahabatnya itu bekerja sebagai penadah barang-barang bekas, nyalinya untuk ikut membantu seketika bangkit. Semula, ia sengaja meninggalkan batang-batang enau dan pondok ladang dengan radio National dua band yang selalu tergantung di tiang itu, demi keinginan bertemu Ratna. Kini, terlintas di pikiran untuk ikut membantu Syaiful, sekaligus mencoba mengais rezeki sekadar untuk biaya hidup selama di Padang. Keinginan bertemu Ratna sengaja ia tekan. Ia tahan. Dan, jika dapat, akan ia lupakan.

Ya, malam yang sama, di saat Ratna sudah tertidur di sisi suaminya, Yarman tersandar di tumpukan kertas di gudang penyimpanan Syaiful, mematut-matut cincin permata giok bermotif rencong wajik yang sudah lama diniatkan sebagai hadiah untuk Ratna. Sejak datang di Padang, Yarman memang sering termenung di situ, sebelum kantuk tiba dan merebahkan badan di atas busa yang tidak jauh dari tumpukan kertas itu.

Entah mengapa pula, Yarman merasa nyaman meringkuk di atara tumpukan kertas bekas itu. Dirinya seolah ditimbun cerita-cerita yang tersimpan di dalam aksara yang tertulis di sana.

Di remang cahaya lampu, ia periksa beberapa lembar kertas yang terserak begitu saja ke lantai. Ia bolak-balik satu-dua lembar. Jantungnya mendingin. Ngilu. Jemarinya menangkap selembar kartu pos. Ia dekatkan ke arah lampu. Antara percaya dan tidak percaya, ia ambil dan periksa lembar-lembar yang lain.

Tidak salah lagi, kartu-kartu pos itu adalah kartu-kartu yang dulu pernah dikirimnya untuk acara Kotak Pos yang diasuh Ratna. Duh! Ia kumpulkan semua. Ia bawa ke tempat ia biasa tidur. Napasnya memburu. Tak sabar menunggu siang tiba. Sebab, ada sakit di jantungnya. Bila matahari sudah terbit esok hari, ia akan pamit pada Syaiful. Ia akan pulang, kembali ke Kototinggi membawa kartu-kartu pos itu.

Barangkali, bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya. (*)


Sungai Naniang-Padang, 2009-2010
Zelfeni Wimra, lahir di Sungainaniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Sutradara Teater Cabang, juga bergiat di Magistra Indonesia dan C2RS. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Pengantin Subuh (2009).