Kamis, 26 September 2013

Pengaruh Kesusasteraan Asing dalam Kesusastraan Indonesia


I. Pendahuluan 

Ketika kita membicarakan pengaruh kesusasteraan asing dalam kesusasteraan Indonesia maka kita harus melihat vista sastra Indonesia dari masa lalu hingga masa kini. Sebagai langkah awal, pandangan harus kita layangkan jauh ke belakang ke masa Hamzah Fansuri mula bersyair dan bernazam. Atau ke zaman Nurrudin Ar-Raniri ketika melahirkan Bustanul Sallatin (Taman Raja-Raja) dan Bustanul Katibin (Taman ). Hasil kesusastraan di zaman ini lebih sering disebut oleh sarjana sastra Indonesia-Melayu sebagai bagian dari sastra lama Indonesia dan dilanjutkan dengan sastra baru (modern) Indonesia yang dimulai sejak munculnya percetakan di Hindia Belanda dan diramaikan oleh kelompok Pujangga Baru tetapi sudah lebih dahulu dipelopori oleh penulis Tionghoa Peranakan yang mula pertama memperkenalkan cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern.

Karya sastra Indonesia (Nusantara) lama ini sudah dimulai sejak abad ke-16 di zaman Hamzah Fansuri, Nurrudin Arraniri, Syamsuddin-Al Sumatrani, hingga periode para wali di Jawa yang banyak menghasilkan suluk sebagai pengaruh budaya Islam. Namun, di Jawa jauh sebelum Islam masuk pun sudah memiliki karya sastra kakawin yang mendapat pengaruh dari India. Kesusastraan asing yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia lama adalah kesusastraan Arab dan Parsi (Persia) sebagaimana sudah disebutkan di atas. Jejaknya itu dapat kita baca pada naskah-naskah lama yang ditulis dalam aksara Arab Melayu dan tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Nusantara.  Karya-karya sastra dari Arab dan Parsi ini sangat banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu serta meninggalkan bentuk hikayat, syair, gazal, rubai, gurindam,  masnawi, dan barzanzi dalam khazanah sastra Indonesia lama.

Sesudah berlalunya tradisi pernaskahan di Indonesia, pengarang Indonesia modern yang dimulai oleh penulis  Cina Peranakan masih menulis syair dan pantun  dalam karya cetak. Namun, pada tahun 1912, sudah mulai ditemukan cerita pendek yang awal dalam buku cerita Warna Sari di Surabaya. Cerita pendek yang dimuat berjudul “Si Marinem” karya H.F.R. Kommer dan ditulis dalam ragam bahasa Melayu rendah, (Sastri, 2012).  Pada masa Angkatan Pujangga Baru perkenalan para penulis dan pembaca karya sastra dengan karya-karya sastra Eropa khususnya Belanda semakin mudah diperoleh baik melalui buku pelajaran dis ekolah maupun melalui karya saduran. Jika sebelumnya karya sastra asing seperti Arab dan Parsi diperoleh melalui hubungan perdagangan maka karya sastra Eropa diperoleh melalui dunia pendidikan di masa Hindia- Belanda.

Pada zaman Jepang, pengaruh kesusasteraan asing seperti Jepang tidak terlalu banyak berarti dalam kesusastraan Indonesia. Hal ini disebabkan singkatnya masa pendudukan Jepang dan tidak adanya upaya penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia pada saat itu. Upaya-upaya penerjemahan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Indonesia justru baru dimulai pada tahun 1972 ketika Anas Ma’sruf menerjemahkan novel Yukiguni karya Yasunari Kawabata ke dalama versi Indonesia yang berjudul Negeri Salju. Selanjutnya karya sastra Jepang mulai banyak dikenal dalam versi terjemahan Indonesia berkat bantuan Japan Foundation dan Toyota Foundation, Toshiki dkk (2009: 205). Puisi-puisi pendek Jepang (haiku) yang sangat terkenal itupun mulai tampak dalam karya sastra Indonesia melalui beberapa sajak pendek Sapardi Djoko Damono yang ditenggarai terpengaruh oleh haiku ketika ia bermukim di Jepang.

Sesudah kemerdekaan tepatnya pada tahun 1960-an pengaruh kesusastraan asing dalam karya sastra Indonesia lebih disebabkan karena pengaruh ideologi, seperti komunisme dari Uni Sovyet. Hal itu dapat kita temukan pada karya-karya para penulis Lekra yang banyak menerjemahkan karya sastra Rusia yang beraliran kiri.


II. Jejak Kesusastraan Parsi dan India dalam Kesusastraan Indonesia Lama

Boleh dikatakan bahwa karya Hamzah Fansuri yang sangat terkenal yakni Hikayat Burung Pingai ditenggarai oleh beberapa ahli mendapat pengaruh  dari karya sastra  Parsi yang berjudul Manttiq at-tayr (Percakapan Burung-Burung). Demikian juga karya-karya Hamzah Fansuri yang lain sebagaimana yang dicatat oleh Al-Attas (1970) memperlihatkan pengaruh puisi sufi dari Parsi. Diantara karya-karya Hamzah yang terpenting itu adalah Syarab al-Asyikin (Anggur Orang-Orang Pengasih), Asrar al-arifin (Rahasia Orang-Orang Arif), dan Al- Muntahi (Sang Ahli Ma’rifat).  Karya yang terakhir ini merupakan kutipan dari lusinan penyair Parsi yang ternama seperti Attar, Rumi, Iraqi, Shabistari, Shah Ni’matullah, Maghribi, dan lain-lainnya.

Persinggungan negeri-negeri di bawah angin dengan pedagang-pedagang Arab dan Parsi pada masa lampau yang berdagang hingga ke Pansur memungkinkan juga dibawanya karya-karya sastra Arab dan Parsi ke wilayah Nusantara.  Sehingga kita dapat pula melihat jejak kesusastraan Parsi itu pada puluhan karya sastra Indonesia lama lainnya sebagaimana pernah disampaikan oleh Braginsky (2009: 59-102). Ia mencatat diantara karya Parsi yang sangat dikenal di Indonesia adalah Hikayat-i Muhammad-i Hanafiyah, Qissa-i Amir Hamzah,  Hikayat Indraputra, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Nur Muhhammad. Sebelumnya Djamaris (1983) menjelaskan pula bahwa Hikayat Nur Muhammad ini ditenggarai terpengaruh dari salah satu bab kitab  Rauzat al- Ahbab (Taman Sorga Para Pengasih) karya Attaullah ibn Fazlullah dari karya penulis Parsi. Selain itu, kita juga mengenal cerita berbingkai seperti Hikayat Kalilah dan Dimnah (Kalila wa-Dimna), Hikayat Bayan Budiman (Tuti-nama) yang semuanya berasal dari Parsi.

Pengaruh  kesusastraan India terhadap karya sastra Indonesia dapat kita temukan pada karya sastra Hikayat Seri Rama, Ramayana, Mahabarata, Hikayat Panji, Hikayat Cekel Weneng Pati, Barathayudha, dan kakawin Arjunawiwaha. Bahkan dalam tradisi pewayangan Jawa, kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana sudah diadaptasi menjadi karya sastra Jawa dan merupakan kisah pewayangan yang sudah dianggap sebagai kebudayaan adiluhung bangsa Jawa dan  menjadi bagian dari sistem nilai orang Jawa.


III.       Jejak Kesusastraan Eropa pada Kesusastraan Indonesia Modern

Ketika percetakan mulai masuk ke Hindia Belanda, kesusastraan asing semakin mudah diakses oleh kaum terpelajar bumi putra. Kehadiran buku-buku sastra dunia ditemukan dengan mudah dan menjadi bahan bacaan yang disampaikan di sekolah-sekolah Belanda pada masa lalu. Sebelum periode Balai Pustaka, kita telah mengenal sebuah karya yang fenomenal dari Multatuli yang berjudul Max Havelaar. Sastrowardojo (1989:138) menyebutkan bahwa karya Multatuli ini pernah diakuinya mendapatkan ilham dan pengaruh setelah membaca Pondok Paman Tom (Uncles’s Tom Cabin) karya Beecher Stowe yang terkenal itu. Penerjemahan cerita pendek Eropa dalam surat kabar awal di Hindia Belanda yang dilakukan oleh penulis Indo-Eropa maupun Cina Peranakan dan Pribumi turut berkontribusi dalam masuknya pengaruh bacaan Eropa dalam kesusastraan Melayu-Indonesia pada masa itu. Salah satunya adalah masuknya genre cerpen seperti yang telah disinggung di atas.

Pengaruh karya sastra penulis Belanda seperti de Tachtigers ‘Angkatan 1880’ pada pengarang Pujangga Baru salah sasatu faktor yang memudahkan masuknya pengaruh karya sastra Eropa dalam kesusastraan Indonesia modern, (Teeuw,1980). Salah seorang penyair Pujangga Baru Indonesia yang sangat terpengaruh dan memuja penyair Tachtigers Belanda adalah J.E Tatengkeng. Ia menulis sajak-sajak relijiusnya dengan mengacu pada gaya kepenulisan Frederik van eeden dan Willem Kloos dari Belanda seperti sajaknya yang berjudul KataMu Tuhan. Bahkan sebagai wujud kekagumannya pada penyair Belanda tersebut, Tatengkeng pernah menulis satu sajak yang khusus ditujukan kepada Willem Kloos,  (Sunarti, 2012). Jika Tatengkeng memuja penyair Belanda maka Sanusi Pane adalah salah seorang pengarang Angkatan Pujangga Baru yang mengagumi karya sastra pujangga India Rabidranath Tagore dan pernah menulis adaptasi cerita Gitanjali ke dalam bahasa Indonesia. Merari Siregar juga melakukan hal yang sama yakni pernah menyadur karya sastra Belanda ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tjerita si Djamin dan Si Djohan (1918). Karya ini disadur dari roman Jan Smees karya Justus van Maurik (Teeuw,1994:142-172). Selanjutnya Teeuw menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kedua roman ini dan bagaimana cerita ini bisa disadur oleh Merari Siregar menjadi  versi Indonesia dengan latar cerita, nama para tokohnya disesuaikan dengan kondisi di Hindia-Belanda pada masa itu. Pengaruh komisi bacaan rakyat (Balai Pustaka) juga ikut menjadi andil bagi penyaduran cerita ini menurut Teeuw.

Satu pengaruh yang negatif dari proses sadur-menyadur karya asing ke dalam bahasa Indonesia ini adalah munculnya polemik terhadap karya sastra hasil saduran itu dengan tudingan sebagai karya plagiat. Kasus itu muncul pada novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938) karya Hamka. Sebagai pengarang yang banyak membaca karya-karya sastra dalam bahasa Arab, Hamka sangat mengagumi karya seorang penulis Mesir yang bernama Mustafa Lutfi al-Manfaluthi yang hidup dari tahun 1876-1942. Penulis dari Mesir ini pernah menerbitkan sebuah novel saduran dari Perancis yang berjudul Magdalena yang diberinya judul dalam bahasa Arab  Madjulin. Ketika novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengalami cetakan yang ke-7, seorang penulis bernama Abdullah S.P. menulis tudingan bahwa karya Hamka menjiplak karya saduran Al- Manfaluthi. Karya saduran dari Al-Manfaluthi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Berapa bagian dari karya itu setelah dibandingkan dengan karya Hamka ternyata memang memiliki persamaan, akan tetapi menurut Teeuw (1980:105) persamaan itu bisa timbul karena penerjemahan ke dalam bahasa Melayu dan jelas karya Hamka memiliki isi yang sama sekali berbeda dengan karya saduran Al-Manfaluthi tersebut. Bahkan ada kesan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck merupakan semi otobiografi dari penulisnya yang berbeda sama sekali dengan akhir dari novel Madjulin yang disadur oleh Manfaluthi.

Masalah yang sama dengan Hamka juga pernah dihadapi oleh Chairil yakni dituduh sebagai plagiat ketika melakukan penyaudran karya asing ke bahasa Indonesia. Chairil pernah dituduh melakukan plagiarisme atas karyanya yang berjudul Krawang-Bekasi. Hal ini disebabkan karena minat Chairil yang sangat tinggi terhadap karya penyair Eropa, khususnya Belanda seperti  Slauerhoff, Marsman, dan Rilke dan kemudian amat mempengaruhi sajak-sajaknya. Akibatnya salah satu sajaknya dianggap menjiplak karya Slauerhoff  yakni sajak Krawang Bekasi. Tudingan ini tidak dapat dibuktikan. Tetapi karena tuntutan ekonomi, tindakan plagiarisme memang pernah dilakukan oleh Chairil pada beberapa tulisan yang lain dan bukan sajak Krawang-Bekasi yang otentik milik Chairil. Malah pengucapan puitik Chairil dianggap memiliki nilai-nilai baru dalam struktur dan pilihan katanya yang sama sekali berbeda dan bahkan dianggap lebih baik dari sajak-sajak penyair Belanda yang disadurnya.

Pengaruh asing dalam sajak-sajak Chairil dapat juga kita temukan pada isi sajaknya misalnya, pada kata ahasveros dan sisipus yang menggambarkan pengetahuannya mengenai kebudayaan Eropa. Beberapa diksi dalam sajaknya juga tidak terlepas dari pengaruh kata-kata Belanda seperti baris sajaknya yang berbunyi: Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Semangat individualisme yang masih asing pada masa Chairil menulis juga menjadi ciri pembeda sajaknya dengan pendahulunya seperti Amir Hamzah yang masih kuat terikat pada pantun  dan syair serta bahasa Melayu lama yang mengacu pada gaya penulisan  Hamzah Fansuri. Kedua sastrawan ini mewariskan syair dan pantun sebagai bagian puisi lama yang banyak sekali dipakai di awal kehadiran sastra Indonesia baru. Gaya ini kemudian ditinggalkan sama sekali oleh Chairil Anwar dalam sajaknya sehingga ia dianggap sebagai tokoh pendobrak zaman lama tersebut.

Keahlian Chairil melakukan penyaduran sajak-sajak asing ke dalam bahasa Indonesia juga diakui oleh kritikus sebagai karya saduran yang baik seperti yang dilakukannya pada sajak Huesca karya Jhon Cornford dari Amerika Serikat dan pada tahun 1967 sajak yang sama diterjemahkan oleh Taslim Ali dengan judul Sajak.
Sesudah Chairil Anwar tiada, pengaruh kesusastraan asing pada karya sastra Indonesia semakin dipertajam melalui beberapa karya penyair Indonesia modern yang nota bene mendapat pendidikan Barat. Sapardi (1983:5) menyebutkan beberapa nama pengarang Indonesia yang karyanya memperlihatkan pengaruh asing (Sastra Barat) seperti Pramoedya Ananta Toer, Basuki Gunawan, Iwan Simatupang, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Mochtar Lubis, dan P. Sengodjo. Tetapi saya lebih cenderung memberikan pilihan lain yang tidak disinggung oleh Sapardi dalam tulisannya itu. Diantaranya adalah karya-karya Subagio Sastrowardojo, Goenawan Moehammad, Darmanto Jatman, WS. Rendra, dan Sapardi Djoko Damono sendiri.

Pengaruh asing pada karya Subagio Sastrowardoyo seperti terlihat dalam esei dan sajaknya. Karyanya itu memperlihatkan kuatnya nilai-nilai Katolik yang menjadi argumen dasar dalam tulisannya. Pada Goenawan Mohammad sajak-sajaknya memperlihatkan pergulatan untuk menjadi penyair yang hendak lepas dari nilai tradisi. Pengaruh asing pada karyanya lebih pada tataran ide dan bukan bentuk. Isi sajaknya menggambarkan hubungan personal yang sangat luas dengan tokoh dan penyair dunia sehingga kita menemukan penggalan kisah yang menggambarkan pertemuan Goenawan dengan tokoh-tokoh dunia dan tempat-tempat asing yang disinggahinya. Namun, berbeda dengan Chairil yang menulis puisi sebagai upaya pemberontakan terhadap bentuk dan struktur puisi Indonesia lama, sebaliknya Goenawan dengan sadar memanfaatkan rima-rima pantun dalam sajaknya untuk memperlihatkan “pertemuan” tradisi dan budaya luar yang dikenalnya. Semakin modern cara berfikir seseorang seperti Goenawan ternyata semakin sadar ia akan jatidiri dan identitasnya sebagai penyair yang tidak mungkin melepaskan diri dari akar budayanya. Sehingga lahirlah tafsiran baru atas nilai-nilai tradisi dalam wujud sajak modern seperti Gatoloco, Pariksit, dan Persetubuhan Kunthi.  Kita juga akan menemukan semangat dunia dan kosmopolitan dalam sajak-sajaknya yang memperlihatkan kecenderungannya pada persoalan sosial dan politik di Indonesia. Hal itu dapat kita lihat pada sajaknya yang berjudul Internationale dan sajak Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun itu (untuk Agam Wispi). Sajak itu disampaikan dengan semangat puitika barat yang tidak mudah dipahami oleh pembacanya di Indonesia.

Pernah  pada satu masa, penyair  WS. Rendra, sangat menyukai menulis sajak dalam bentuk balada. Sebagai contoh bisa kita temukan pada sajaknya yang berjudul “Bersatulah Para Pelacur Ibukota”, Ballada Atmo Terbunuhnya Atmo Karpo”, Ballada Anak Mencari Bapa”, Ballada Suku Naga” dan lainnya. Bdentuk balada atau ballade dalams ajak-sajak Rendra tersebut memperlihatkan pengaruh kesusastraan asing khususnya pengaruh dari karya-karya balada penyair Federico Garcia Lorca yang banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun-tahun 1950-an. Sebagaimana disampaikan oleh Sapardi (1983:5) seperti pernyataannya di bawah ini.

“Periode sesudah perang membukakan pintu lebar-lebar bagi hampir semua arus penting dalam perkembangan sastra asing. Kalau sebelum perang arus yang masuk disaring oleh Bahasa belanda, tahun-tahun sesudah perang  dan 50-an membiarkan bahasa Inggris—bahasa yang jauh lebih luas jangkauannya—memperkenalkan berbagai corak perkembangan sastra dunia secara sekaligus. Nama-nama besar yang boleh dikatakan tidak pernah terdengar sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi bahan pembicaraan di majalah-majalah dan di dalam diskusi-diskusi: Jean Paul Sastre, Franz Kafka, Albert Camus, James Joyce, William Faulkner, Premchand, Eugene O’Neill, Boris Pasternak, Federico Garcia Lorca, Ezra Pound, Yukio Mishima, dan sederet panjang lagi yang berasal dari berbagai negeri dan zaman. Dan muncul pulalah karya-karya penulis fiksi dan penyair seperti Pramoedya Ananta Toer, Basuki Gunawan, Iwan Simatupang, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Mochtar Lubis, dan P. Sengodjo; dan karya-karya mereka itu sering lebih mudah dikerabatkan dengan karya sastra asing tinimbang dengan karya yang pernah ditulis di negeri ini sebelumnya.”

Demikian pendapat Sapardi terhadap karya beberapa penulis Indonesia yang dianggapnya mendapat pengaruh asing dalam karya mereka. Pada Darmanto Jatman, pengaruh kesusastraan asing terutama Inggris terlihat pada kumpulan sajaknya Bangsat. Di sini Darmanto telah mencapai gaya pribadi sendiri dan ia tidak terlepas dari pengaruh sajak-sajak Inggris yang umumnya bercorak arif (sophisticated), cendikia (intellectual), dan jenaka (witty). Dengan mengambil gaya pengucapan yang demikian, Darmanto telah meninggalkan suasana romantik saja-sajak yang menjadi ciri umum persajakan Indonesia, (Sastrowardoyo, 1989:206).

Pada sajak-sajak Sapardi, pengaruh kesusastraan asing itu dapat dilihat bukan hanya pada struktur luar (bentuk) saja melainkan juga pada isisajaknya. Pengaruh kesusastraan asing terekam dalam sajak-sajak awalnya yang memperlihatkan struktur Haiku ‘sajak-sajak pendek’ Jepang. Sweeney dalam percakapan langsung dengan penulis pernah mengomentari bahwa Sapardi sesungguhnya menulis puisi barat tetapi menggunakan bahasa Indonesia.  Sastrowardoyo (1989: 191) melihat sajak-sajak Sapardi terutama dalam antologi Mata Pisau secara keseluruhan boleh dikata bertolak dari perntanyaan tentang makna dan tujuan akhir dari hidup. Pertanyaannya itu bersentuhan dengan masalah dasar yang pernah dirumuskan oleh Paul Gauguin waktu melukis di Haiti. Pada sebuah kanvas yang besar—yang disangkanya akan merupakan lukisannya yang terakhir sebelum pelukis Perancis itu berniat menghabisi nyawanya sendiri—dibubuhkannya judul berupa pertanyaan “ dari mana kita datang? Siapakah kita? Kemana kita pergi?” Kesadaran akan masalah hidup yang inti itu biasanya timbul dalam kemelut, suatu situasi krisis yang bisa dialami suatu kelompok masyarakat atau manusia orang-seorang. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pangkal-pangkal hidup yang pernah menghantui jiwa Gauguin itu, telah melahirkan sajak-sajak Sapardi dalam Mata Pisau.


Penutup

Pengaruh asing pada karya sastra Indonesia merupakan hasil sintesa pergaulan dan pergulatan para pujangga dan penyair Indonesia dari masa ke masa. Hal ini juga menunjukan keluasan pengetahuan dan minat penulis Indonesia terhadap karya sastra dunia. Pengaruh asing pada kesusastraan Indonesia (Melayu Nusantara) sejak dulu hingga kini dapat terjadi berkat adanya hubungan perdagangan seperti yang terlihat pada puisi-puisi lama/tradisional Melayu karya Hamzah Fansuri hingga Amir Hamzah. Pada masa Cina Peranakan dan Pujangga Baru pengaruh itu dimungkinkan terjadi melalui dunia pendidikan Hindia Belanda yang mengenalkan karya sastra Eropa dan Belanda khususnya. Sesudah perang kemerdekaan pengaruh kesusastraan asing terjadi melalui indoktrinasi ideologi komunis seperti yang terlihat pada karya sastra zaman Lekra.  Dan juga melalui pergaulan internasional seperti yang diperlihatkan dalam karya WS. Rendra, sajak-sajak pendek (Haiku) Sapardi, maupun dalam pemikiran ajaran agama Katolik yang digambarkan oleh Darmanto Jatman, dan Subagio Sastrowardojo.



Daftar Pustaka

Braginsky, Vladimir. 2009. “Jalinan dan Khazanah Kutipan: Terjemahan dari Bahasa Parsi
dalam Kesusastraan Melayu, Khususnya yang Berkaitan dengan “Cerita-Cerita Parsi,”
hal. 59-111, dalam Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. (ed) Henri Chambert-Loir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Damono, Sapardi Djoko.1983. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta.
Gramedia

Djamaris, Edwar. 1983. Hikayat Nabi Mikraj, Hikayat Nur Muhammad, dan Hikayat Darma
Tasiya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mohammad Goenawan. 2001. Sajak-Sajak Lengkap: 1961-2001. Jakarta: Metaphor Publishing.

Sastrowardoyo, Subagio. 1989. Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan: Seberkas
Catatan Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Sunarti, Sastri. 2012. “Romantisisme Puisi-Puisi Indonesia tahun 1935-1939 dalam Majalah
Pujangga Baru” Jurnal Puitika, No.1.Volume 8. Februari 2012. hal. 19-40. Padang: FIB Universitas Andalas Padang.

Suyono dkk.  2008. “Cerita Pendek Indonesia”  Penelitian Tim Subbidang Pengkajian Sastra,                               Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Jakarta.


Teeuw. A. 1980. Sastra Baru Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

----------- 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

----------- 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya Girimukti Pasaka.