Rabu, 26 November 2014

SELAMATKAN DIRIMU GURU

X Mipa B - Sinar Cendekia Islamic Senior High School

Guru berasal dari Bahasa Sanskerta, merupakan gabungan dari dua kata 'gu' dan 'ru', yang berarti kegelapan (darknes) dan terang (light). Seorang guru membawa kita dari ketidaktahuan menjadi tahu, mengubah kita dari tidak paham menjadi paham.  (Kusmayanto Kadiman - Rektor ITB 2001-2004 & Menristek RI 2004-2009)

Kutipan tersebut saya ambil dari catatan sbuku laris yang di tulis oleh Jansen Sinamo yang berjudul "8 Etos Keguruan"  hal tersebut sangat menggelitik terutama bagi kita yang mendedikasikan hidup sebagai "guru" (sekolah dasar, perguruan tinggi, atau lembaga pendidikan formal atau luar sekolah lainnya). Sudah benar dan sudah pahamkah kita (guru) dalam menjalankan tugas mulia kita tersebut, telah berhasilkah kita dalam membawa siswa-siswa kita dari kegelapan menuju terang, dari tidak tahu menjadi tahu, kalaupun sudah apakah cara yang kita lakukan benar-benar tepat, tepat benar atau tidak kedua-duanya?

Maka dari itu, penting kiranya di peringatan Hari Guru 2014 ini kita memahami tentang tugas dan peran kita sebagai guru yang senantiasa terus berupaya untuk mengembangkan diri dan meningkatkan keprofesionalitasan kita agar dapat menghasilkan generasi-generasi terbaik untuk bangsa dengan menulis catatan-catan pendek tentang sejarah, masa kini dan masa depan yang bisa kita baca dan kita jadikan bahan analisa serta evaluasi diri.
  
Sejarah Hari Guru Nasional
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 dan mulai diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

100 hari pasca reformasi 25 November 1945 juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Cikal bakal PGRI sudah ada sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang bersifat unitaristik dan beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Selain PGHB yang anggotanya terdiri dari guru-guru yang mengajar di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda,  mulai lahir dan berkembang pula organisasi lain dengan corak keaagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.  

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan mulai lahir dari para guru dengan diubahnya nama PGHB menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) setelah dua dekade berselang. Perubahan yang sangat mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata "Indonesia" yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disukai oleh Belanda sedangkan kata "Indonesia" sebaliknya sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia kala itu.

Semangat perjuangan para guru terus "berkobar" dengan mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda yang hasil dari kobaran semangat tersebut antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.

Kesadaran dan cita-cita  perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”

Setelah pendudukan Jepang di Indonesia PGI tidak dapat melakukan aktivitas karena semua organisasi dan sekolah-sekolah ditutup. Namun semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta. Segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan.

Di dalam kongres inilah, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI didirikan dan sebagai penghormatan kepada para guru, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI tersebut sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun.

Tuntuan Guru dalam Pendidikan Masa Kini
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran adalah guru. Betapapun kemajuan teknologi yang terus mendorong dan mendukung setiap individu dapat belajar secara mandiri karena tersedianya berbagai ragam alat bantu atau media pembelajaran yang dapat diakses secara langsung (internet, dll), namun posisi guru tetap tak tergantikan sebagai variabel terpenting dalam menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan.

Guru memiliki peran yang amat besar untuk mengubah seorang anak dari gelap gulita menuju terang terang benderang, dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari kebutaan aksara menjadi seseorang yang pintar dan pandai baca tulis, alfabetikal maupun fungsional yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi pribadi yang madiri, menjadi tokoh kebangsaan komunitas dan bangsanya. Tetapi tentu guru yang demikian bukanlah guru sembarang guru, pastinya ia adalah guru yang memmiliki profesionalisme tinggu sehingga bisa "digugu dan ditiru". Semoga kita termasuk diantaranya.... AMIN !!!

Tuntudan pendidikan masa kini tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan masa depan, dimana guru dalam melaksanakan tugasnya dituntut agar dapat bekerja profesional. Dalam refrensi buku-buku pendidikan dan keguruan diantaranya menjelaskan bahwa guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan atau ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan ciri-ciri dimaksud adalah: (a) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat, (b) harus berdasarkan atas kompetensi individual, (c) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, (d) ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (e) adanya kesadaran profesional yang tinggi, (f) memiliki prinsip-prinsip etik (kode etik), (g) memiliki sistem seleksi profesi, (h) adanya militansi individual, dan (i) memiliki organisasi profesi.

Dari ciri-ciri guru profesional tersebut, menyadarkan kita bahwa untuk menjadi guru tidaklah bisa datang dari mana saja tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik. Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai kerja sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter. Inilah salah satu permasalag yang menjadi "pekerjaan rumah" kita bersama dalam perbaikan mutu pendidikan masa kini.

Tanggung jawab sebagai seorang guru tentunya sangatlah kompleks. sebagai seorang guru, hendaknya terus dan harus membekali dirinya dengan pemahaman tentang filsafat pendidikan secara baik dibarengi dengan pemahaman terhadap peserta didik secara mendalam, serta penguasaan strategi pembelajar dan bahan ajar. Guru hendaknya dapat memposisikan dirinya sebagai guru (pendidik) yang baik bukan sebagai 'tukang ngajar' semata. Sehingga mutu pendidikan tidak hanya dapat diilihat pada lembar hasil tes secara tertulis tetapi juga terefleksikan dalam perilaku melalui pengembangan karakter dan kecakapan intekektual. 

Indonesia dan Revolusi "Katanya"
Mengatasi kompleksnya persoalan pendidikan Indonesia masa kini, maka 'revolusi' haruslah benar-benar segera dimulai bukan hanya sekedar seruan atau rencana tanpa hasil atau sekedar isapan belaka. Rencana yang baik mendukung tercapainya hasil yang baik, maka 'membunuh' revolusi yang hanya sekedar katanya saja adalah hal yang harus disegerakan.

Senada dengan gerakan revolusi mental yang saat ini diserukan, oleh pemenang kompetisi pemilihan presiden yang lalu. Maka menangkap isi atau pesan dari seruan tersebut dengan segera tentunya bukanlah suatu kesalahan, dimana revolusi mental kita bisa tangkap sebagai seruan serius terkait pembangunan karakter bangsa, dan guru memiliki peranan serius dalam hubugan dan interaksinya dengan generasi penerus bangsa baik di kelas atau di luar kelas dan di mana saja dalam mencapai isi atau maksud dari revolusi tersebut, sehingga dapat meretas dan terbebasnya bangsa dari perbudakan mental.

Upaya tersebut tentunya haruslah kita mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan negara yang bisa diwujudkan melalui revolusi etos kerja keguruan (baca; 8 etos keguruan), revolusi mengajar yang inovatif dan kreatif.

SELAMAT HARI GURU, SEMOGA KITA TERUS MENJADI PEMBELAJAR YANG BAIK UNTUK  MENJADI GURU YANG "BENAR-BENAR GURU BENAR".

Daftar Pustaka
1. Sinamo, Jansen. 2010. 8 Etos Keguruan. Jakarta : Institute Dharma Mahardika.
2. Kolom Pendidikan dan Kebudayaan Harian Umum Kompas, Edisi 26 November 2014

0 komentar:

Posting Komentar