Selasa, 10 Maret 2015

Kritik Siswa; Tidak Salah

Sumber Gambar: Google

Beberapa hari yang lalu, ada peristiwa yang sangat mengesankan di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Satu angkatan serempak datang datang kesekolah dengan tidak menggunakan seragam. Hal tersebut mereka lakukan sebagai bentuk perlawanan atas kebijakan yang menurut mereka (siswa.red) tidak menyenangkan. Dan terjadi komunikasi yang cukup alot antara pihak sekolah dan siswa.

Pihak sekolah menilai, apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang salah dan tidak seharusnya dilakukan dan merupakan bentuk fatal sebagai sebuah pembangkangan komunal terencana dan tidak pantas dibiarkan. Sedang siswa menilai sebaliknya, bahwa kebijakan yang diterapkan oleh sekolah tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

BELAJAR DARI KEJADIAN TERSEBUT, MESKI TANPA HASIL AKHIR YANG DETAIL.

Berhasil atau tidaknya proses pendidikan diantaranya dapat diukur dari tiga hal, satu dari nilai akademik, dua keterampilan dan tiga sikap.

Cerminan dari apa yang siswa lakukan di lingkungan hidup mereka merupakan gambaran dari hasil belajarnya secara tidak langsung. Untuk melakukan penilaian secara akademik sudah ada instrumen yang cukup jelas karena  dengan mudah kita bisa melihat angka-angka yang tertera pada laporan hasil belajar (raport.red) siswa yang diterbitkan oleh sekolah. Hal tersebut senada dengan melakukanan penilaian terhadap pengujian keterampilan dalam beberapa pelajaran tertentu seperti keterampilan mendribling bola dalam pelajaran olah raga materi bola basket, keterampilan membaca puisi atau pidato dalam mata pelajaran bahasa indonesia, atau bentuk pengujian keterampilan lainnya pada mata pelajaran yang berbeda.

Namun satu yang sampai saat ini hampir semua dilembaga pendidikan seluruh Indonesia bahkan duniapun, belum ditemukannya instrumen yang benar-benar tepat kepada siswa (analisis singkat-pandangan pribadi) sebagai alat ukur untuk menguji aspek sikap siswa dalam pembelajaran di sekolah. Selama ini dalam menilai aspek sikap kita (pendidik) hanya melihat dari bagaimana mereka (siswa) berperilaku, baik terhadap teman sebaya, guru, orang tua dan lain-lain. Tentunya tidak sesederhana itu dalam melakukan pengukuran terhadap sikap siswa, termasuk dalam memberikan penilaian tentang benar atau salah atas sikap yang siswa tunjukkan.

Lepas dari hal tersebut, sejatinya pendidikan adalah sebuah gerakan penyadaran. Dari hal yang sederhana, seperti 1+1=2 bukan 3, makan harus membaca do’a, harus memberi salam dan hormat kepada orang tua sampai tingkatan tertinggi sesuai jenjang yang ditempuh. Sehingga sebagai siswa (manusia) dapat mencerminkan sesuatu yang baik dalam keberlangsungan hidupnya kedepan, kritis dan peka terhadap kondisi sosialnya juga kritis terhadap apa yang benar-benar siswa butuhkan hingga akhirnya lahir dan terciptanya kesadaran untuk belajar dan berusaha atau mengusahakan dirinya untuk memenuhi kebutuhannya dalam berkembang dengan mandiri.

Dan bentuk protes yang dilakuakan pada kasus salah satu sekolah diatas adalah sebagai representasi berhasilnya sebuah pendidikan dari satu bidang, meski bidang lain memilik penilaian yang berbeda. Kemampuan menagkap persoalan yang ada disekitar, kemampuan untuk mengkomunikasikan dengan teman angkatan, kemampuan (keberanian) menyampaikan pendapat ke pada pihak sekolah adalah sebuah kepekaan yang patut di apresiasi sebagai proses belajar. Dan harus benar-benar didengarkan dengan baik, dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam melahirkan keputusan atau kebijakan selanjutnya. bukan malah sebaliknya, memberi tuduhan atau ancaman atas kesalahan yang dilakukan.

Perkembangan era atau jaman yang terus melesat membuat para pendidik (generasi tua) terus tertinggal dengan perkembangan siswa. Siswa terus melesat dengan banyak membaca, melihat, mendengar juga merasa, teknologi sedang para generasi pendidik tidak.  Maka tidak jarang di beberapa sekolah banyak guru yang salah dalam menggunakan metode mengajar, salah dalam memberi bentuk “bercanda”, salam dalam menilai dan hal-hal lain tanpa memperhatikan dengan jelas perkembangan siswa secara ilmiah (baca; teori pskikologi umum).

Maka pelajaran, terakhirnya adalah. SETIAP ORANG ADALAH GURU, SETIAP TEMPAT ADALAH SEKOLAH.

0 komentar:

Posting Komentar